Rabu, 05 September 2012

Kisah Sang Proklamator


Judul Buku : Bung Karno Dibunuh Tiga Kali
Penulis : Asarman Adamvi W
Penerbit : Kompas
Cetakan : Pertama 2010
Tebal : xiv + 202 Halaman
Peresensi : Masduri*

Sosok Bung Karno masih saja menyisakan banyak cerita dan pertanyaan menarik. Semua ini tak lepas dari besarnya jasa beliau pada negeara Indonesia. Dan saya yakin, sampai kapanpun beliau senantiasa terngiang dalam ingatan anak bangsa, lantaran perjuangan beliau dan kawan-kawannya, kemerdekaan bangsa Indonesia bisa diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 . Sejarah dan perjuangan beliau akan selalu menginpirasi anak bangsa untuk terus menjaga dan mengisi kemerdekaan yang dulu diperjuangkan mati-matian oleh para pahlawan. Kemerdekaan merupakan nikmat besar yang tak terbandingkan dengan apapun. Apalah arti hidup sebagai bangsa yang bernegara, jika kita masih terkekang dan terintimedasi oleh negara asing.
Mengingat kembali tentang sejarah proklamator kemerdekaan menjadi sesuatu yang niscaya dalam membangun masa depan Indonesia. Pada hakikatnya masa lalu, kini dan akan datang, senantiasa memiliki kaitan yang erat. Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini adalah keringat dan darah perjuangan para pahlawan.
Sejarah masa silam merupakan kekayaan bangsa yang tidak boleh dilupakan, apalagi disesatkan. Dari sejarah kita kan banyak tahu tentang arti sebuah perjuangan. Namun beda dengan yang terjadi pada Bung Karno, banyak sejarah yang menceritakan tentang beliau tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Sejarah perjuangan beliau banyak disesatkan oleh para sejarawan, terlebih pada masa rezim Orde Baru.
Rezim Orde Baru banyak melakukan penyesatan terhadap sejarah beliau dalam upaya melanggengkan kekuasaan yang dipimpinnya. Soeharto dan kawan-kawan sengaja melakukan hal ini agar memory kolektif masyarakat merekam sejarah negatif tentang Bung Karno. Bahkan bukan saja sejarah beliau yang disesatkan, hampir seluruh sejarah kebangkitan nasional pada masa rezimnya banyak dilakukan pembengkokan dengan menggantikan dirinya sebagai aktor utama segala perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia.
Terkait tentang sejarah Bung Karno, sejarawan Asvi Warman Adam menulis buku, Bung Karno Dibunuh Tiga Kali. Buku ini mengungkap pembengkokan dan penyesatan sejarah yang terjadi terhadap Bapak Bangsa Indonesia. Ada tiga penyesatan yang telah diungkap oleh penulis, penyesatan ini dibahasakan dalam bentuk pembunuhan.
Pembunuhan pertama, Bung Karno sengaja ditelantarkan saat beliau sakit dengan tidak ditebusnya resep obat yang ditulis oleh dr. Mahar Marjdono. Resep tersebut hanya ditaruh dalam laci. Bung Karno sengaja dibiarkan tidak mendapat obat dan perawatan intensif, agar ia segera menemui ajalnya. Penelantaran ini merupakan dusta besar yang telah berakibat pada kematian bapak proklamator bangsa Indonesia.
Pembunuhan kedua terhadap Bung Karno dilakukan oleh Rezim Orde Baru dalam penyesatan sejarah, bahwa Bung Karno bukan orang yang pertama merumuskan Pancasila, hal ini pernah disampaikan oleh Nugroho Natosusanto. Bahkan pada tanggal 1 Juni 1970 peringatan terhadap hari lahir Pancasila dilarang Kopkamtib. Itulah sebabnya Jacques Leclerc seorang sejarawan Prancis menyebutnya bahwa Bung Karno hakikatnya telah dibunuh dua kali, secara lahiriah dan batiniah.
Sisa-sisa penyesatan sejarah yang dilakukan rezim orde baru tehadap Bung Karno tidak berkhir dengan tumbangnya Soeharto pada tahun 1998. Di era reformasi ini dengan kebebasan berpendapat yang tak terkendali, masih saja penyesatan tersebut terjadi. Buku Sukarno File, Berkas-Berkas Soekarno 1965-1967 yang diluncurka di Jakarta pada tanggal 17 November 2005. Penulis buku teresbut, Antonei C.A. Dake menyatakan dalam bukunya bahwa Presiden pertama Indonesia merupakan dalang utama atas tragedi G30S/1965. Pernyataan ini secara tidak langsung menganggap Soekarno sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas terbunuhnya enam jendral dan pembantaian antarkomunis dan non-komunis.
Peluncuran buku penyesatan tersebut beberapa hari kemudian ditanggapi oleh Putri Soekarno—Megawati—sebagai “character assasination” atau pembunuhan karakter. Inilah pembunuhan ketiga yang dimaksud oleh Asvi Warman Adam dalam bukunya Bung Karno Dibunuh Tiga Kali. Tragedi pembunuhan tiga kali yang dilakukan secara sengaja kepada Soekarno adalah tragedi mengenaskan anak bangsa Indonesia. Bagaimanapun tragedi bungkarno adalah tragedi bangsa Indonesia. Maka penting kemudian penyesatan sejarah ini duluruskan agar citra Bapak Bangsa tidak ternodai. Kita tidak akan rela jika anak cucu kita dimasa mendatang dijejali dengan sejarah yang tidak benar dan tak jelas sumbernya.
Meski sudah banyak buku sejarah tentang Bung Karno, buku ini tetap menarik, sebab kebanyakan buku tentang Soekarno hanya berupa biografi datar, tanpa study kritis terhadap berbagai sumber yang dijadikan rujukaannya. Beda dengan buku yang ditulis Asvi Warman Adam, buku ini secara kritis menela’ah sejarah Bung Karno secara utuh. Asvi dapat menemukan celah yang belum terlihat oleh penulis lain, sehingga ketimpangan sejarah yang terjadi dimasa orde baru sampai era reformasi ini dapat diluruskan. Dalam buku ini Asvi lebih banyak menceritakan tentang jasa dan perjuangan Bung Karno, mulai dari saat beliau naik kepermukaan publik memperjuangkan kemerdekaan RI sampai beliau menjadi pimpinan Negara, dan kemudian dijatuhkan karena kepentingan politik Soeharto. Pristiwa ini sering disebut creeping coup (kudeta merangkak), dimana kemudian Soeharto menggantikan kedudukannya sebagai presiden RI.
Pelulurusan sejarah Bung Karno yang dilakukan oleh Asvi, penting kita baca, sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa Indonesia. Agar kita dapat mengingat jasa perjuangan beliau dan terinspirasi untuk melakukan perbaikan tatanan bangsa, demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Bagaimanapun Bung Karno adalah Bapak Bangsa, sekaligus proklamator kemerdekaan Indonesia, yang mesti diteladani.


*Masduri, Pengelola Pers Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya.
Resensi ini dimuat di Radar Surabaya pada hari Minggu 20 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar